Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wamen Stella Christie Soroti Minat Rendah Generasi Muda RI di Antariksa

Featured Image

Perkembangan Teknologi Luar Angkasa di Dunia dan Tantangan di Indonesia

Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Cina, Rusia, dan India sedang bersaing ketat dalam pengembangan teknologi luar angkasa. Di tengah persaingan ini, minat generasi muda terhadap ilmu dasar seperti fisika dan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) di Indonesia masih rendah. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Stella Christie, menyampaikan kekhawatiran terhadap hal ini.

Menurut data McKinsey & Company, nilai ekonomi industri antariksa global diperkirakan akan meningkat dari US$ 630 miliar pada 2023 menjadi US$ 1,8 triliun pada 2035. Ini menunjukkan potensi besar yang sangat strategis, bahkan untuk pertahanan negara. “Ini bukan industri niche. Nilai ekonominya besar, dan sangat penting untuk pertahanan negara,” ujar Wamen Stella.

Industri antariksa mencakup beberapa sektor utama, seperti: - Manufaktur satelit dan wahana antariksa - Peluncuran roket untuk mengirimkan satelit dan wahana ke orbit - Stasiun luar angkasa - Eksplorasi planet dengan robotika, pariwisata, dan pertambangan luar angkasa - Penelitian dan pengembangan luar angkasa

Indonesia memiliki peluang besar dalam bidang ini karena wilayahnya berada di sekitar garis khatulistiwa. Dengan posisi geografis ini, banyak satelit bisa mengorbit di wilayah ekuator. Salah satu jenis orbit yang umum adalah Geostationary Earth Orbit (GEO), di mana satelit bergerak searah rotasi Bumi dan berada pada ketinggian sekitar 35.786 km. Orbit ini cocok untuk komunikasi dan televisi karena sinyal stabil dan cakupan luas.

Namun, Wamen Stella melihat bahwa minat generasi muda Indonesia terhadap astronomi dan fisika masih rendah. Untuk menjawab tantangan ini, pemerintah telah menciptakan peluang sejak dini melalui pendidikan, salah satunya Sekolah Garuda. Program ini digagas Presiden untuk memberikan akses pendidikan menengah terbaik bagi siswa dari berbagai daerah, termasuk kalangan menengah ke bawah. Sekolah Garuda akan didirikan di pelosok Indonesia agar semua anak dapat mengakses pendidikan berkualitas.

Ancaman dari Negara Lain

Amerika Serikat khawatir dengan kemungkinan adanya senjata nuklir anti-satelit yang dikembangkan oleh Rusia. Menurut laporan Reuters, sistem ini menggunakan alat peledak nuklir yang ditempatkan di orbit. Juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa sistem ini melanggar Perjanjian Luar Angkasa 1967, yang melarang penempatan senjata nuklir di orbit.

Di sisi lain, Amerika juga waspada terhadap kemajuan satelit Cina. Salah satu satelit yang menarik perhatian adalah Yaogan-41, yang memiliki resolusi 2,5 meter dan mampu mendeteksi kendaraan, pesawat, dan kapal di wilayah yang luas. Selain itu, Cina juga memiliki satelit SAR (Synthetic Aperture Radar) yang dapat melihat di balik awan dan kegelapan.

Spesialis intelijen AS, Ronald Lerch, menyebutkan bahwa satelit-satelit baru Cina memberikan kemampuan intelijen yang lebih baik. Kombinasi antara resolusi optik dan radar membuat Cina memiliki pengawasan visual dan radar yang sangat kuat di wilayah Indo-Pasifik.

Pemerintah Cina menyatakan bahwa satelit SAR sebagian besar digunakan untuk keperluan sipil, namun militer AS meragukan klaim tersebut. Menurut Clayton Swope, mantan pejabat intelijen AS, satelit Cina mungkin dapat mendeteksi dan melacak pesawat, bahkan yang dirancang untuk menghindari radar.

Persaingan di Era Baru

Perkembangan teknologi luar angkasa tidak hanya berdampak pada keamanan nasional, tetapi juga pada seluruh aspek perang. Memo Angkatan Darat AS yang dirilis pada Januari 2024 mengakui kemungkinan pasukan AS akan beroperasi di bawah pengawasan terus-menerus dari satelit. Hal ini memicu perluasan diskusi tentang peran luar angkasa dalam perang modern.

Swope menyarankan bahwa militer AS perlu merancang teknik untuk membuat lawan bingung, seperti menggunakan umpan dan pengalihan perhatian. Meski sulit menyembunyikan aktivitas sepenuhnya, pasukan AS harus siap menghadapi era dominasi luar angkasa yang semakin kuat.

Dalam situasi ini, penting bagi komunitas luar angkasa untuk terus berkomunikasi dan berkoordinasi. Pembicaraan perlu diperluas ke seluruh Pentagon dan angkatan bersenjata untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi ancaman dan peluang di luar angkasa.